ustads

KECERDASAN FINACIAL
Oleh  : H. M. Sofwan Jauhari  M.Ag.
Dosen STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta



MENJAUHI TINDAKAN: AT-TAKAATSUR, BAKHIL DAN TABDZIR

Print
Created on Wednesday, 08 October 2014

MENJAUHI TINDAKAN: AT-TAKAATSUR, BAKHIL DAN TABDZIR

 

Sebanyak apapun penghasilan seseorang, jika tidak dikelola secara baik maka dia akan selalu merasa kekurangan, sehingga yang muncul dalam dirinya adalah “AT-TAKAATSUR” berlomba-lomba memperbanyak harta dan kekayaan yang bisa menjadikan seseorang melalaikan Tuhan, tidak peduli halal-haram dan malas beribadah karena lupa kepada Allah swt sebagai Dzat yang telah memberikan harta kepadanya. Sikap tercela yang demikian inilah yang diingatkan oleh Allah swt dalam Al-Quran Surat ke 102: 1-8.

Sebagaimana Islam melarang sikap AT-TAKAATSUR, maka Islam juga melarang seseorang bersifat boros dan bakhil (pelit/kikir) dalam membelanjakan atau menggunakan harta kekayaannya. Bakhil dalam istilah agama Islam berarti tidak mau membayarkan sesuatu yang menjadi kewajibannya[1], seperti tidak membayar zakat, tidak membayar hutang, tidak memberikan nafkah kepada anak, istri dan orangtua atau tidak mau menjalankan ibadah haji karena sayang dengan uangnya. Diceritakan bahwa nabi Yahya a.s pernah berdialog dengan Iblis. Beliau bertanya kepada Iblis, siapakah manusia yang paling Iblis cintai dan siapakah manusia yang paling Iblis benci?. Maka Iblis menjawab bahwa manusia yang paling ia sukai adalah orang mu’min yang bakhil, yakni orang beriman tetapi tidak mau membayar hal-hal yang menjadi kewajibannya. Dan Iblis juga menjelaskan bahwa orang yang paling ia sukai adalah orang fasik yang dermawan[2].

 

Jika sifat bakhil merupakan tindakan yang terlarang dalam Islam, begitu juga sebaliknya, sifat tabdzir atau israf (berlebih-lebihan) juga dilarang oleh Al-Qur’an, pelakunya disebut sebagai mubadzir atau musrif, dan Al-quran menyatakan bahwa orang-orang mubadzir, orang yang menghambur-hamburkan kekayaannya adalah saudara syetan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran Surat 17:27. Ayat ini mengisyaratkan bahwa seorang muslim harus memanfaatkan setiap harta yang diamanahkan oleh Allah untuk sesuatu yang bermanfaat bagi kebaikan. Seorang muslim harus pandai mengelola keuangannya agar terhindar dari tindakan tabdzir.

Ada beberapa tindakan yang tergolong tabdzir, yaitu :

Tabdzir adalah setiap pengeluaran yang tidak memiliki nilai kebaikan[3], walaupun tidak sampai tergolong maksiat atau haram, seperti membelanjakan uang untuk membeli rokok, membeli makanan hanya untuk pajangan/hiasan, membeli petasan untuk hari raya, dan sejenisnya. Setiap rupiah yang kita keluarkan harus memiliki nilai ibadah atau manfaat, karena semua uang yang kita dapatkan akan diminta pertanggung jawabannya di sisi Allah swt.

Tabdzir juga berarti menggunakan uang atau harta kekayaan pada urusan yang bathil[4] atau yang diharamkan, seperti membeli minuman keras, membeli narkoba, membeli pakaian seksi untuk mempertontonkan aurat, membeli produk-produk yang haram untuk dikonsumsi dan melakukan perjudian atau money game walaupun dengan kedok bisnis.

Makna ketiga dari tabdzir adalah menggunakan harta kekayaan melebihi batas ketentuan[5] seperti makan-makan ketika perut kita masih kenyang, membeli pakaian dan kendaraan hanya untuk koleksi/pajangan, atau membeli produk sekedar untuk tutup point, tidak untuk dijual, tidak untuk dikonsumsi atau dibagikan kepada orang lain sehingga produk menjadi kadaluarsa.

Selain arti tabdzir yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, tabdzir juga berarti gaya hidup konsumtif, sedangkan yang termasuk gaya hidup konsumtif antara lain adalah :

  1. Menuruti, membeli atau menggunakan sesuatu produk dengan tujuan untuk menambah rasa ‘ujub (merasa hebat) dan takabbur atau sombong.

ü  Makan di restoran yang mahal agar orang lain melihat anda sebagai orang kaya dan sukses, padahal sebenarnya makanan di warung yang murah dan sehat masih ada di sekitar anda.

ü  Membeli HP atau gadget baru yang lebih mahal biar kelihatan up to date, mengikuti trend, dianggap kaya, modern dan sukses; padahal HP atau gadget yang anda miliki sebelumnya sebenarnya masih mencukupi kebutuhan komunikasi anda.

Membeli sesuatu melebihi kebutuhan, lebih mengedapankan keinginan. Atau istilah lainnya adalah memenuhi want, bukan need-nya. Banyak orang yang tidak dapat membedakan ketika hendak membeli sesuatu, apakah sesuatu itu sebenarnya merupakan kebutuhan dirinya atau sekedar keinginannya. Cara sederhana yang bisa saya sampaikan adalah, apakah jika anda tidak membeli produk anda terancam binasa, sakit, terancam nyawa atau kesehatan kita, terancam masuk neraka, terancam tidak dapat menjalan kewajiban, atau tidak. Atau dengan bahasa lain, apakah dengan membeli produk itu anda bisa menambah kebaikan dunia atau akhirat ataukah tidak? Bisa menambah anda menjadi kaya, bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat bagi agama anda, menambah pahala bagi anda atau tidak? Jika tidak, maka pada umumnya itu hanyalah keinginan dan bukan kebuthhan anda, maka batalkanlah diri anda untuk membelinya. Wallahu a’lam


[1]Lihat kitab Al-Aqidah yg ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th 241H) hal 115 dan Al-Intishor firroddi ‘alal mu’tazilah alqadariya, karya Abul husain yahya bin abil khoir asy-syafi’i Vol I/213).

[2] Aakamul marjan fii ahkamil jaan, Muhammad bin Abdullah Asy-syibli alhanafi (wafat 769 H), editor Ibrahim aljamal, maktabtul Quran , Cairo, I/277).

[3] Tafsir Al-Basith 13/313.

[4] Tafsir Ath-Thabari 17/428.

[5] Tafsir Al-Kasysyaf, Imam Az-zamakhsyari,2/661.

 




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia