ustads

KECERDASAN FINACIAL
Oleh  : H. M. Sofwan Jauhari  M.Ag.
Dosen STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta



WAKAF SEBAGAI BAGIAN DARI TOLOK UKUR DAN GOALS KESUKSESAN FINANSIAL ANDA.

Print
Created on Wednesday, 15 June 2016

wakaf

WAKAF  SEBAGAI BAGIAN DARI TOLOK UKUR

DAN GOALS  KESUKSESAN FINANSIAL ANDA.

Oleh : HM Sofwan Jauhari Lc, M.Ag.

 

Selain Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) di dalam agama Islam dikenal beberapa bentuk charity yang lain seperti hibah, wasiat dan wakaf. Tulisan pendek ini akan menjelaskan mengenai arti, urgensi dan landasan hukum tentang wakaf.  Secara garis besarnya, semua bentuk kebaikan disebut sodakoh, baik yang anda lakukan dengan fisik maupun harta anda, termasuk senyum dan menolong orang lain. Adapun  sodakoh yang berbentuk harta benda disebut infaq, infaq ada yang wajib misalnya zakat dan ada yang tidak wajib misalnya adalah wakaf.

Wakaf merupakan bagian dari sodakoh dan infaq tetapi memiliki ketentuan khusus.  Wakaf dalam bahasa arab disebut waqof yang secara bahasa berarti berhenti. Misalnya ketika anda membaca Al-quran anda waqof di akhir ayat, artinya berhenti di akhir ayat.  Sedangkan dalam istilah fiqh waqof atau wakaf  adalah menyerahkan harta benda untuk suatu kebaikan,  di mana pokoknya tidak boleh dihabiskan, manfaat harta itu digunakan untuk suatu kebaikan sesuai yang disebutkan dalam ikrar wakaf yang diucapkan oleh waqif (pihak yang berwakaf). Karena pokok yang anda sedekahkan itu tidak boleh dihabiskan maka pahala yang anda dapatkan akan terus mengalir selama sesuatu yang anda sedekahkan itu masih digunakan untuk suatu kebaikan.

Dalam arti lain, harta yang diberikan itu “dihentikan”, yakni tidak boleh digunakan kecuali sesuai keinginan waqif. Harta yang diwakafkan juga “berhenti” dalam arti tidak boleh dihabiskan, karena yang dimanfaatkan adalah “gain” –nya.  Dengan cara ini maka waqif akan mendapatkan pahala yang kontinyu atau terus menerus selama harta itu masih dikelola dengan baik oleh pihak pengelola wakaf yang disebut nadzir.

Jadi wakaf adalah merupakan salah satu smart sedekah atau sedekah yang cerdas, karena dengan satu kali beramal anda akan mendapatkan tambahan pahala secara berulang-ulang. Contohnya adalah ketika anda mewakafkan tanah untuk dibangun masjid, pesantren, lembaga pendidikan, panti asuhan yatim dan dhuafa’ atau untuk keperluan social keagamaan yang lain.  Selama tanah yang anda wakafkan masih digunakan untuk hal tersebut, maka setiap hari anda akan mendapatkan tambahan pahala walaupun saat itu anda sudah meninggal dunia.  Seandainya pahala kita wujudkan dalm bentuk point, ketika anda meninggal dunia jumlah pahala anda hanya 1.000 point maka boleh jadi di hari kiamat jumlah pahala anda sudah bertambah menjadi 1.000.000 point karena bertambah setiap hari melalui wakaf yang anda berikan.

Jika anda sudah pernah berkunjung ke  Tanah Suci, anda perhatikan masjidil haram dan masjid nabawi,  anda tidak melihat kotak infaq yang beredar di dua masjid itu, dan anda melihat puluhan hotel di sekitar masjid maka ketahuilah bahwa sebagian bea operasional masjid itu dibiayai dari keuntungan hotel yang telah diwakafkan untuk masjid. Begitu juga dengan Universitas Al-Azhar Mesir yang memberikan pendidikan agama secara gratis kepada ummat islam dari seluruh penjuru dunia, hal itu bukan karena sumbangan dari APBN Negara tetapi karena didanai dari wakaf yang diberikan oleh ummat Islam  sejak abad ke 10 masehi. Begitu pula jika anda melihat beberapa pesantren yang ada di Indonesia, baik pesantren tradisional maupun modern. Tanpa wakaf maka pendidikan islam akan menjadi mahal. Semakin banyak sebuah pesantren memiliki asset yang berasal dari wakaf maka akan semakin ringan beaya pendidikan yang dipungut dari anak didik.

Adalah suatu hal yang sangat menggembirakan bahwa, pemerintah Republik Indonesia di masa kepemimpinan SBY  telah mengesahkan UU No 41 tahun 2004 Tentang Wakaf. Ini berarti bahwa wakaf memiliki landasan hokum yang sangat kuat, dia tidak hanya didukung oleh dalil-dalil yang sohih dari QL-Quran dan Hadits tetapi juga telah didukung oleh UU yang berlaku di Negara kita.

Diantara beberapa ketentuan dalam UU tersebut adalah bahwa wakaf tidak dapat dibatalkan oleh wakif maupun oleh ahli waris (pasal 3), wakaf dapat dilakukan dengan cara wasiat, maksudnya seseorang boleh berwakaf saat dia masih hidup dan diimplementasikan ketika sudah meninggal dunia. Dengan cara ini maka wakif tetap dapat menikmati harta yang dimiliki ketika dia masih hidup, dan dia akan memperoleh pahala wakaf ketika sudah meninggal dunia (pasal 24-27).   Selain itu harta yang sudah diwakafkan  juga tidak dapat dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, maupun diwariskan (pasal 40).

Inilah sebagian keunggulan sodakoh yang berbentuk wakaf, dalam bahasa lain wakaf inilah yang disebut dengan sedekah jariyah, artinya sedekah yang mengalir, yakni pahalanya terus mengalir walaupun orang yang bersedekah sudah meniggal dunia ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu : Rasulullah saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ به أو ولد صالح يدعو له"

Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersbda: Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari 3 hal : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya.  HR Ibnu Hibban.  (Pada riwayat Ibnu Khuzaimah : Amalan yang bermanfaat).

Oleh sebab itulah, maka seorang muslim yang ingin sukses di akhirat harus memperbanyak investasi akhiratnya dalam bentuk wakaf. Dan jika kita ingin menjadi pengusaha muslim yang sukses, mitra K-<ink yang sukses maka berapa banyak harta yang ingin anda wakafkan harus menjadi bagian dari dream dan standar kesuksesan anda. Kesuksesan financial bukan diukur berapa banyaknya bonus yang anda terima tetapi berapa banyak charity dan wakaf yang anda investasikan untuk masa depan anda.




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia