Kebaikan yang Banyak

Created on Thursday, 23 June 2016

falhan

Kebaikan yang Banyak

Oleh: Ahmad Falhan, Lc., MA | Dosen STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah

 

Ada banyak kitab hadits yang menuliskan peroses turunya surat al-Kautsar, yaitu riwayat sahabat Anas bin Malik “Suatu ketika Nabi sedang berada di masjid bersama kami, para sahabat melihat beliau tertunduk seperti orang yang sedang tertidur. Kemudian beliau menengadahkan kepala sambil tersenyum lalukami bertanya kepada beliau, “ Apa gerangan yang membuat baginda Rasul tertawa dan tersenyum. Maka Nabi pun berkata, “telah diturunkan kepadaku tadi sebuah surat, lalu beliau membacakanya (surat al-Kautsar). Tahukah kamu apakah itu “al-Kautsar”, para sahabat pun berkata, Allah dan Rasulnya lebih mengetahui hal tersebut. Rasul pun berkata, al-Kautsar itu adalah telaga yang Allah janjikan kepadaku di surga. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak, jumlah bejana yang ada di sekitarnya sejumlah bintang di langit, Banyak umatku yang mendatangi telaga tersebut, namun ada pula yang dikelurkan dari tempat tersebut, maka aku berkata ya Rabb, ya Rabb sesunggunya mereka adalah umatku, maka Allah berkata, sesunggunya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan setelah engkau meninggalkan alam dunia”(HR. Abu Daud)

Di dalam hadits ini jelas dikatakan bahwa arti dari pada al-kautsar adalah telaga yang ada di surga, namun jika kita teliti secara bahasa arti dari pada al-kautsar adalah kebaikan yang banyak. Maka dari itu banyak pula ulama tafsir yang mengartikannya dengan segala kebaikan yang Allah telah berikan kepada mahluknya di dunia ataupun di akhirat. Diantara kebaikan atau nikmat yang Allah telah berikan kepada manusia, nikmat Al-Quranlah yang paling terbesar. Allah SWT. telah menurunkan al-Quran sebagai hidayah bagi manusia, setiap huruf dan lafaznya dapat merasuk dan memberikan ketenangan di dalam jiwa manusia, semua kandungannya memberikan rahmat bagi alam semesta.

Pada ayat kedua dari suarat al-Kautsar Allah SWT. Memerintahkan kita untuk Shalat dan berkurban, artinya setelah Allah SWT. Memberikan berbagai macam nikmat kepada kita begitu juga nikmat terbesarNya al-Quran, hendaklah manusia mensyukurinya dengan selalu beribadah kepadaNya, mengerjakan segala perintah dan laranganNya. Karena pada dasarnya nilai-nilai shalat itu haruslah memberikan pengaruh positif dalam semua perbuatan kita, menjaga hubungan dengan Allah SWT. dan juga hubungan dengan manusia. Melalui perintah berkurban, yang mungkin dapat dimaknai secara luas, yaitu selalu menjaga hubungan yang baik kepada semua mahluk yang Allah telah ciptakan di muka bumi ini, diantaranya menginfakan harta kita di jalan Allah SWT..  Sebagaimana Rasulullah SAW. pernah bersabda :

إنما بعثت معلما

artinya“Sesunggunya aku diutus sebagai pengajar” (HR. Ahmad), diantara tugas Rasul adalah mendidik manusia agar memiliki akhlak yang mulia, selalu menjaga hubunganya dengan Allah dan juga mahluk ciptaannya.

Semua energi yang terpancar dari diri Rasulullah telah memberikan nilai positif bagi manusia, baik itu bersifat jasmani, akal, psikis, ruh, nurani, maknawi ataupun kekuatan akhlak. Dengan energi tersebut Rasulullah telah merubah kehidupan Jahiliyah kepada kehidupan yang mulia. Umar bin Khattab misalnya, di zaman jahiliyah beliau adalah seorang yang kesukuan dan pendek pikiran, tabiat, perasaan dan persepsinya. Seorang yang sempit wawasannya, yang menjadi perhatian hidupnya adalah mabuk-mabukan, berfoya-foya, berbuat maksiat bersama teman-temannya. Seandainya bukan karena rasulullah SAW., tentulah Umar akan mati dan hidup dan tak ada seorang pun yang merasa memperhatikannya, tetapi setelah ia meneguk ajaran Islam dari tangan Rasulullah, jadilah ia seorang Umar yang baru, sang pembuat tatanan yang cerdas dan brilian, negarawan besar yang agung, symbol keadilan yang melambangkan ketegasan, luas wawasannya, benar jangkauan pemikirannya, dan jitu firasatnya.

Umar yang gaungnya memenuhi dunia, tak ada arti apa-apa seandainya tidak terdidik dalam naungan Rasulullahlah SAW.. Dari Rasulullah  ia mengambil ilmu, hikmah, dan tarbiyah yang merupakan cermin dari kitabullah al-Quran, seperti yang pernah ditegaskan oleh ‘Aisyah RA., bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Quran. Kebaikan yang Allah SWT. telah berikan kepada manusia yaitu al-Quran yang juga tercermin di dalam diri Rasulullah, seharusnya kita syukuri dengan mengamalkaan semua isi kandungannya serta meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Sekarang kita sedang berada di bulan Ramadlan, yang penuh dengan kebaikan, rahmat dan ampunan, dimana Allah melipat gandakan pahala setiap amal kebaikan. Sejak dari bulan Rajab persiapan untuk bertemu dengannya haruslah dilakukan,  bahkan di dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 36 Allah telah berfirman :

إنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Allah SWT. memerintahkan kita untuk tidak menzalimi diri kita pada empat bulan hurum, beberapa mufassir mengatakan bahwa arti dari menzalimi di sini adalah menzalimi diri sendiri dengan meninggalkan perintah Allah dan melakukan larangan Allah, dan bisa juga artinya menzalimi orang lain. Di antara bulan-bulan hurum tersebut adalah bulan Rajab, dimana orang-orang Arab dari kabilah Mudlor menyebutnya bulan yang berada di antara Jumada al-Tsaniyah dan Sya’ban. Bahkan sejak enam bulan sebelum bulan Ramadlan tiba, para sahabat Rasulullah SAW. sudah mempersiapkan diri mereka. Sehingga di saat memasuki bulan yang penuh dengan ampunan tersebut kita sudah siap untuk beribadah secara optimal. Diantaranya adalah mengkhatamkan al-Quran dan membacanya sebanyak mungkin, sebagai manifestasi kita dalam mensyukuri nikmat-nikmat dan kebaikan yang banyak yang Allah SWT. telah anugrahkan kepada kita. Wallahu a’lam  bisshawab.    




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia