YANG TERLUPAKAN DALAM BIMBINGAN MANASIK HAJI & UMRAH.

Created on Tuesday, 05 September 2017

ust sofwan

YANG TERLUPAKAN DALAM MANASIK HAJI & UMRAH. (edited)

HM Sofwan Jauhari Lc, M.Ag, ASPM.[1]

Sepanjang perjalanan karir saya menjadi menjadi Pembimbing Haji & Umrah atau Certified Tour Leader, khususnya dalam perjalanan haji tahun 2017 ini saya mencatat beberapa hal yang menurut saya penting, tetapi pada umumnya tidak disampaikan oleh para ustadz dalam manasik haji ataupun umrah.  Catatan ini saya sumbangkan untuk para pembimbing, pengusaha tour and travel, pemimpin KBIH dan semua jamaah haji Indonesia agar kiranya menjadi sumbangan ilmu yang bermanfaat.

Harapan saya adalah, dalam acara manasik umrah, apalagi manasik haji, catatan saya ini bisa menjadi salah satu silabus manasik umrah/haji di masa mendatang :

A.Terkait masalah sholat yang juga harus diketahui oleh public.

 

  1. Memahami waktu sholat yang berbeda. Perlu diketahui bahwa jadwal sholat itu berbeda antara satu kota dengan kota yg lain, berbeda antara satu negara dengan negara yang lain. Bahkan  Makkah dengan Madinah juga berbeda. Waktu Subuh di Saudi kadang berbeda dengan Indonesia hingga 1 jam  (musim dingin); dan kadang waktu Isyaknya yang berbeda dengan Jakarta hingga 1 jam , Isyak terkadang sampai jam 20.30. Perubahan jadwal sholat ini juga terjadi dari ke hari. Karena itu sebaiknya HP anda diiinstal dg jadwal sholat seperti Muslim Pro. Begitu tiba di saudi, diantara hal  yang harus  anda pahami  pertama kali  adalah jadwal sholat. Di Muzdalifah, dan Bandara saya mendapati banyak orang yang shalat sebelum masuk waktunya, bahkan arah kiblatnya juga tidak menyesuaikan dengan petunjuk yang ada.
  2. Mengetahui bahwa Adzan subh 2 (dua) kali. Di Haramain adzan subuh dilakukan dua kali, jarak antara adzan pertama dengan adzan kedua sekitar 1 jam. Adzan yang pertama ditandai tanpa adanya lafadz  Ash-sholatu  khoirum minan naum. Adzan pertama ini bisa dikatakan sebagai seruan untuk melakukan sholat tahajjud, dan tahajjud ini sebaiknya ditutup dengan sholat witir. Sedangkan adzan kedua, jaraknya sekitar 1 jam setelah adzan pertama ada kalimat  ash-sholatu khoirun minan naum, ini merupakan adzan sebagai tanda masuknya waktu subh, silahkan sholat sunnah qabliyah subuh sebelum melakukan sholat subh. Begitu pentingnya qabliyah subh, bagi seorang yang telah membiasakan qabliyah subh, apabila terlewatkan karena terlambat, qabliyah subh ini dapat diqodlo.
  3. Adzan Jumat 2  kali. Sebagaimana dalam sholat subh, adzan jumat juga dilakukan 2 kali.  Adapun jarak adzan yg pertama dengan yang kedua biasanya sangat relatif dan tentative  disesuaikan dengan kondisi jamaah, terkadang jaraknya pendek dan hanya cukup untuk sholat 2 rakaat, terkadang agak lama jaraknya, hingga mencapai 30 menit.  Ini juga sebagai pertanda bahwa adzan jumat 2 kali itu tidak termasuk bid’ah dzalalah seperti kata sebagaian orang yang belum tahu.  Bagi anda yang ingin melaksanakan sholat Jumat di masjidil  Haram, sebaiknya harus sudah ada di masjid 2 hingga 4 jam sebelum masuk waktu dzuhur agar mendapatkan tempat yang teduh di bagian dalam masjid, tentu saja anda harus dapat menahan dari hadats.
  4. Sholat Jenazah tiap selesai sholat fardlu. Di masjidil haram dan masjid Nabawi, hampir setiap selesai sholat fardlu ada pelaksanaan sholat jenazah,  sebaiknya anda jangan sampai tidak ikut melakukan sholat jenazah karena besarnya pahala yang akan diberikan oleh Allah swt kepada orang yang melakukan shalat jenazah adalah 1 qirath  ( 1 gunung emas), dan sholat jenazah di masjidil haram  diharapkan seperti halnya sholat fardlu  pahalanya adalah  100.000 x lipat dibandingkan dengan sholat jenazah di masjid lain. Jangan karena alasan sholat bakdiyah kita tinggalkan sholat jenazah. Lakukan kedua-duanya, kecuali bakdiyah ashar dan bakdiyah subh, tidak boleh ada sholat sunnah.Adapun sholat jenazah, tidak termasuk sholat sunnah, tetapi hukumnya adalah fardlu kifayah.
  5. Jangan lakukan sholat bakdiyah ashar dan subh. Semua ulama sepakat bahwa tidak ada sholat sunnah bakdiyah ashar dan subh. Adapun sholat sunnah mutlak yang di lakukan di Makkah atau di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka ada perbedaan pendapat ulama’ mengenai boleh atau tidaknya sholat sunnah mutlak yang dilakukan bakda subh dan bakda ashar, sedangkan bakdiyah subh dan bakdiyah ashar jelas tidak ada.[2]
  6. Dianjurkan sholat sunnat thawaf setelah melaksnakan thawaf. Pelaksanaannya sebaiknya di belakang maqam Ibrahim jika memungkinkan, tetapi boleh dilakukan di mana saja asal tidak mengganggu orang yang thawaf dan tidak membahayakan keselamatan diri anda dan orang lain. Jadi jangan lakukan sholat sunnah thawaf ini di tempat orang yang sedang thawaf dan mengganggu serta membahayakan keselamatan orang lain.
  7. Hindari melakukan sholat fardlu di dalam hotel meskipun berjamaah apalagi sendirian,  kecuali ada udzur, misalnya sakit atau darurat. Salah satu keutamaan yang harus kita kejar dalam ibadah haji atau umrah adalah pahala sholat di masjid nabawi dan pahala sholat di masjidil haram. Banyak ulama yang berpendapat bahwa sholat di masjid jami’ di tanah haram tetap mendapatkan pahala 100.000 x lipat, meskipun di masjidil haram tentu lebih baik karena ada pahala jalan kaki dan sebagainya.  Adapun jika anda  sholat fardlu di hotel, maka pahala 100.000x lipat itu tidak anda peroleh menurut para ulama’. Kenapa harus datang jauh-jauh  dari Indonesia ke tanah suci, jika hanya untuksholkat di rumah/ hote sayang kan???. Terkait hal ini ada tulisan saya yang berjudul PAHALA SHOLAT JAMAAH DI MASJID DI TANAH HARAM.
  8. Hindari ta’addudul jamaat, yakni adalah sholat jamaah lebih dari 1 (satu) kelompok dalam waktu dan tempat yang sama. Pada dasarnya ta’addudul jamaat tidak diperbolehkan. Untuk menghindari hal ini maka diperbolehkan sholat berjamaah walaupun beda niat sholatnya, misalnya imam sholat sunnah dan makmunya sholat wajib. Begitu juga diperbolkehkan imam melakukan sholat qashar dan makmumnya sholat tamm  (tidak qashar). Yang tidak boleh adalah jika imam melakukan tamm ( 4 rakaat) sedangkan makmumnya hanya 2 rakaat sehingga  makmum selesai dari sholat sebelum  imam.
  9. Pahami kewajiban memisahkan antara shaff wanita dengan shaff pria dalam sholat berjamaah, sebaik-baik shaff kaum lelaki adalah yang ada di depan dan sebaik-baik shaff wanita adalah di bagian belakang. Jangan sampai anda berpikiran atau memaksakan diri untuk berdampingan suami istri ketika sholat berjamaah di haramain kecuali ada udzur/darurat. Upaya untuk sholat berdampingan suami istri di haramain sering berakibat kesulitan yang lebih besar atau bahkan terpisah dari pasangan hingga tersesat. Memang ada daerah yang bebas dari aturan ini, yaitu  di bagian luar masjid atau luar  halaman masjid  yang agak jauh dari masjidil haram, tetapi shaff yang beraturan sesuai sunnah tentu lebih baik daripada yang tidak beraturan.

B.Terkait masalah keamanan dan kenyamanan jamaah.

 

  1. Mengingat dan membawa kartu Hotel. Saat tiba di Hotel, hal pertama yang harus anda kenali adalah nama hotel dan tulisan ejaaannya dengan benar, dan mintalah kartu nama hotel kkepada staff atau tour leader anda. Ingat juga gedung-gedung  yang ada antara hotel dengan masjid, serta nomer gate di masjid Nabawi dan Masjidil. Jika anda harus pindah ke hotel yang lain sebaiknya kartu nama hotel yang lama anda simpan/ masukkan ke dalam koper besar atau kembalikan ke resepsionis hotel.  Bawa kartu nama hotel yang anda sedang tinggal di dalamnya saja, ketika anda bingung atau tersesat maka tanyakan kepada orang lain dengan menunjukkan kartu nama hotel tersebut.
  2. Kenali nomer pintu masuk (gate) di masjid nabawi dan masjidil harajadikan hal itu sebagai patokan,  anda harus berangkat dan pulang melalui jalan dan gate yang sama. Jangan coba-coba mencari jalur lain jika anda tidak benar-benar memahami peta lokasi kedua masjid itu,  begitu juga ketika anda berada di tenda Arafah dan Mina dan menuju Jamarat. Usahakan untuk tidak coba-coba mencari jalan atau pintu yang lain kecuali anda benar-benar siap untuk berpetualangan.
  3. Untuk menghindari antrian yang panjang di toilet/  WC, antrian naik bus dan melempar jumrah, ada strateginya.  Antara lain adalah, setelah sholat anda jangan langsung bubar, gunakan 30 -60 menit setelah sholat fardlu untuk berdzikir, berdoa dan tilawah al-Quran, tentunya dengan mencari tempat yang aman, bukan yang dilewati banyak orang,  setelah itu barulah anda  pulang menuju hotel, maka anda tidak perlu rebutan/antri untuk naik bus.  Adapun untuk menghindari panjangnya antrian di toilet atau jamarat, jangan gunakan titik paling depan, gunakan toilet bagian belakang yang biasanya cenderung lebih kosong.
  4. Pada umumnya 1 jam sebelum masuk waktu maghrib, atau 2 jam sebelum sholat jumat dan beberapa menit sebelum sholat fardlu yang lain ( sesuai dengan kondisi jamaah) pintu masjidil haram ditutup untuk alasan keselamatan dan kenyamanan jamaah.  Jamaah harus mengambil posisi di mana saja yang kosong dan diijinkan, jangan memaksakan diri. Berhentilah di mana anda mendapatkan tempat yang kosong dan diijinkan. Memang ada tempat yang sengaja dikosongkan oleh petugas agar saat bubar sholat tidak terjadi hal-hal yang tidak diiinginkan, dan juga untuk pertimbangan evakuasi seandainya terjadi crowded karena banyaknya jamaah.

C.Terkait hal-hal lainnya.

  1. Tidak ada kotak infaq di haramain. Jika anda ingin bersedekah, silahkan bersedekah kepada para petugas kebersihan masjid, cleaning service jalanan dan  hotel, kepada sesama jamaah haji/umrah atau bersedekah untuk masjid-masjid di  Indonesia.
  2. Wakaf Mushaf Al-quran. Bagi yang ingin wakaf Mushaf untuk masjid nabawi dan masjidil haram, harus memahami bahwa semua mushaf yang bukan standar dengan rasm utsmani, atau bukan cetakan mujammamalik fahd  (cetakan resmi pemerintah Saudi)  maka mushaf tersebut akan dialihkan ke masjid lain. Perhatikan, bahwa semua mushaf yang ada di haramain adalah seragam, cetakan resmi dari kerajaan arab Saudi/ mujamma’
  3. Hindari kebiasaan buruk rebutan sedekah. Pada prakteknya banyak sekali orang yang bersedekah dalam bentuk makanan dan minuman di Makkah dan Madinah, apalagi pada 10 hari pertama bukan Dzulhijjah dan 10 hari terakhir buan Ramadlan.  Sebagai jamaah haji / umrah saran saya adalah agar anda jangan berebut sedekah seperti orang yang rakus atau miskin. Seorang muslim yang baik adalah memiliki sifat ITSAR, mengutamakan orang lain. Berpikirlah untuk memberi dan bukan meminta.  Jika kita tidak dapat bersedekah di tanah haram, minimal anda lebih mengutamakan orang lain dalam menerima sedekah. Banyak jamaah haji/umrah yang  kaya tetapi berebut sedekah, dan belum tentu makanan yang diperebutkan itu dimakan karena ternyata rasanya tidak sesuai. Memalukan sekali rasanya ketika saya melihat orang berebut sedekah sampai terkadang terjadi pertengkaran kecil. Apakah orang-orang itu benar-benar miskin dan membutuhkan sedekah ???
  4. Hampir tiap sore/ menjelang maghrib selalu disediakan sedekah untuk berbuka puasa maupun sedekah biasa bagi yang tidak puasa. Di haramain sering ada hidangan menjelang sholat maghrib, diberikan kepada yang shaum maupun tidak, ini bagian dari sedekah para dermawan di tanah suci, jika anda mendapatkan tempat yang ada, bersyukurlah, tetapi jangan berebut sedekah, berpikirlah untuk memberi sedekah bukan menerima sedekah.
  5. Banyak sedekah makanan yg mungkin tidak cocok dengan lidah kita, biarkan sedekah itu untuk yang disedekahkan itu, jangan lakukan tabdzir/ mubadzir.
  6. Hindari perbuatan tabdzir. Banyak jamaah yang mengambil makanan atau minuman dalam jumlah yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, dan akhirnya makanan /minuman itu terbuang sia-sia.
  7. Jaga kebersihan tanah suci. Diantara yang hal yang sangat memalukan adalah melihat perilaku jamaah haji/umrah yang membuang sampah sembarangan. Ini sangat jauh dari ajaran Islam. Bahkan di dalam masjid dan di area jamarat banyak orang membuang sampah botol dan kerikil sembarangan, hal ini sangat membahayakan jamaah yang lain. Rasulullah saw memerintahkan kita untuk memungut hal-hal yang mengganggu di jalanan, kalau kita tidak dapat melakukan hal  itu, minimal janganlah kita menjadi orang yang mengganggu dan menciptakan bahaya / malapetaka bagi orang lain. Bukankah kita sudah dilatih saat Ihram untuk menjaga kemaslahatan tanah suci dengan tidak membunuh binatang buruan, tidak memetik tumbuhan ? Bukankah Rasulullah saw selalu mengajarkan hidup bersih? Allah swt mencatat setiap keburukan kita di tanah suci, termasuk saat mengotori tanah suci dengan membuang sampah sembarangan.
  8. Utamakan yang wajib daripada  yang sunnah,  pahami Fiqh awlawiyyat/prioritas. Banyak orang yang lebih mementingkan hal-hal yang sunnah dengan cara menjalankan yang haram, seperti ketika mencium hajar aswad.  Banyak yang demi mencium hajar aswad kemudian ber-ikhtilah dan berdesakan antara laki dengan perempuan,  atau bahkan dengan cara menyakiti orang lain,  berdesak-desakan dan sikut-sikutan, tidak lagi mementingkan keselamatan orang lain. Jika dihitung antara pahala dan dosanya, mungkin akan lebih besar dosanya. Jangan terpancing dengan perilaku jamaah yang lain, belajarlah dengan baik, mana yang wajib, mana yang sunnah dan mana yang haram.
  9. Haji adalah miniature dari peristiwa hari kiamat. Setiap jamaah haji/umrah harusnya sudah membaca dan mengkaji tafsir surat Al-Hajj (Surat ke 22) sebelum berangkat ke tanah suci, para pembimbing haji/umrah harusnya menyampaikan korelasi antara haji dengan kiamat. Haji dan umrah bagi sebagian orang mungkin hanya menjadi sebuah trend dan menjadi ritme kehidupan kelas social tertentu. Spiritual haji hampir tidak dirasakan, karena banyak yang tidak dapat menghubungkan antara haji/umrah dengan huru hara hari kiamat seperti yang dijelaskan dalam Surat ke 22/ Al-hajj.

Makkah ; 13 Dzulhijjah 1438 ; 

edited  29 Dzulhijjah 1438


[1] Penulis adalah dosen di STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta  (www.stiualhikmah.ac.id);    Certified Tour Leader (Pembimbing Haji & umrah bersertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi/ BNSP).  Dan anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI  (www.dsnmui.or.id).  Untuk korespondensi dengan penulis dapat dilakukan melalui   Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.   atau    WA: +62-818-654-479.

[2] معرفة السنن والآثار (3/ 433(

5207 - وَرَوَى الشَّافِعِيُّ فِي الْقَدِيمِ …….، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَلَا بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، إِلَّا بِمَكَّةَ، إِلَّا بِمَكَّةَ» [ص:434]




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia